Showing posts with label Chinese Wisdom. Show all posts
Showing posts with label Chinese Wisdom. Show all posts

Thursday, November 13, 2008

人生十四最
Ren Sheng Shi Si Zui
14 Guidance of Human Life


[1]
最大的敌人是自己
Musuh terutama manusia adalah diri sendiri
Life's greatest enemy is ourself


[2]
最大的失败是自大
Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
Life's greatest failure is arrogant


[3]
最大的无知是欺骗 / 人生最大的欺騙是無智
Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
Life's greatest ignorance is dupe



[4]
最大的悲哀是嫉妒
Kesedihan terutama manusia adalah rasa iri hati
Life's greatest sorrow is jealousy

[5]
最大的错误是自弃
Kesalahan terutama manusia adalah campak diri
Life's greatest erroneous is self-abandon

[6]
最可佩服的是精进
Sifat manusia yang paling terpuji adalah semangat perjuangan untuk maju
Life's greatest admiration is choice of advancing


[7]
最大的欣慰是布施
Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal Life's greatest gratification is alms

[8]
最大的财富是建康
Harta terutama manusia adalah kesehatan
Life's greatest wealth is healthiness


[9]
最大的礼物是宽恕
Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan
Life's greatest gift is forgiveness


[10]
最可怜的性情是自卑
Sifat manusia terkasihan adalah rasa rendah diri
Life's greatest pitiable disposotion is self-abased


[11]
最大的罪過自欺欺人
Dosa terutama manusia adalah menipu diri dan orang lain
Life's greatest sin is to deceive oneself


[12]
最大的債務是人情債
Hutang terbesar manusia adalah hutang budi
Life's greatest liabilities is a debt of human sympathy


[13]
最大的欠缺是悲智
Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan
Life's greatest imperfection is melancholy wisdom


[14]
最大的破產是絕望
Kehancuran terbesar manusia adalah rasa putus asa
Life's greatest insolvent is despair


Thursday, June 7, 2007

巧诈不如拙诚 Qiao Zha Bu Ru Zhuo Cheng


Skillfull is important but...


Di jaman negara berperang, terdapatlah dua negara yang saling bermusuhan, yaitu Wei dan Zhong Shan. Suatu saat , Pasukan Wei mengepung sebuah kota benteng di Zhong Shan. Pasukan Wei saat itu dipimpin Jenderal Yue Yang. Suatu saat, pasukan Zhong Shan berhasil menyandera anak Sang Jenderal dan bahkan membunuhnya dan membuat sop dari dagingnya. Lalu sup diantarkan ke hadapan Sang Jenderal.

Sang Jenderal sesaat tertunduk sedih. Kemudian mengambil mangkuk sup itu sambil meminumnya. Lalu ia berkata, " Setelah aku menghabiskan sup ini, kita akan membantai Zhong Shan."

Keberanian Yue Yang terdengar sampai ke pusat istana Wei. Raja Wei berkata pada penasihatnya, "Luar biasa!! Yue Yang memakan daging anaknya sendiri demi diriku." Tetapi penasihatnya dengan tersenyum berkata," Jika ia bisa memakan daging anaknya sendiri, daging siapa pun juga dia bisa makan. Bukankah begitu Baginda?" Sang Raja tertegun mendengar pernyataan si penasihat.

Ketika Yue Yang kembali dari perang dengan kemenangan, Raja Wei memberinya hadiah tetapi Yue Yang selalu diawasi dan dicurigai oleh Sang Raja.
Don't eat me please!

Di tempat lain di negara Lu, terdapatlah seorang bangsawan bernama Meng Sun. Ketika dia sedang keluar berburu, ia berhasil memanah seekor anak rusa. Lalu ia berkata kepada salah satu hambanya, " Qin Xiba, Kamu pergi dan ambillah anak rusa yang kupanah tadi lalu bawalah ke istana. Hari ini kita akan pesta daging rusa." "Baik, tuanku." kata Qin Xiba.

Tetapi ketika Qin Xiba membawa sang anak rusa ke istana, ia menyadari ada seekor rusa betina yang terus mengikuti keretanya. Dia langsung menyadari bahwa rusa itu adalah induk dari anak rusa yang sedang dibawanya. Qin Xiba tidak tega melihatnya dan segera melepaskan si anak rusa kembali ke pangkuan induknya.

Setibanya di istana, Bangsawan Meng Sun segera menghampiri Qin Xiba sambil bertanya," Mana anak rusa itu?" Qin Xiba dengan terbata-bata berkata," Ma..maaf, baginda. Tadi ada induk rusa yang mengikuti kereta kami. Saya tidak tega dan akhirnya melepaskan anak rusa tadi. Mohon beribu maaf, Baginda." Mendengar jawaban Xiba, Meng Sun amat marah. Dengan keras ia berkata, " Berani-beraninya kau tidak mematuhi perintahku!! Kamu tidak takut pada amarahku?" Akhirnya, Meng Sun memecat dan mengusir Xiba.


Would he have the heart to lead my son to harm?

Tiga bulan kemudian, Meng Sun kembali memanggil Xiba. Sang Bangsawan lalu menyuruh Xiba menjadi pengajar pribadi anaknya. Penasihat Meng Sun melihat hal ini menjadi bertanya-tanya. Dia bertanya pada Meng Sun, " Mohon maaf atas kelancangan hamba. Tapi sebelumnya anda menghukum Xiba atas ketidakpatuhannya, mengapa sekarang tiba-tiba anda mengundang dia kembali bahkan mengangkatnya menjadi pengajar pribadi Putra Anda?" Sambil tersenyum, dia berkata," Xiba tidak punya hati untuk membawa anak rusa ke dalam bahaya. Bukankah dia juga tidak punya hati untuk membiarkan atau mengajarkan anakku sesuatau yang berbahaya atau membahayakan dirinya?"

NOTES:
Di China ada suatu pepatah:" Skilled cunning is not as good as foolish sincerity"(巧诈不如拙诚)atau "Ketrampilan sehebat apa pun tidak sebaik ketulusan hati yang paling rendah" atau singkat kata "Ketulusan lebih baik dari pada ketrampilan/skill." Yue Yang, Sang Jenderal Wei, memang sukses, tapi dia menuai kecurigaan. Sebaliknya, Qin Xiba, sang pelayan, memang dihukum, tapi dia menuai kepercayaan.

Cerita ini mempunyai suatu pesan yang dalam, yaitu ketulusan jauh lebih penting dari ketrampilan sehebat apa pun. Jika kau mempunyai teman, pilihlah yang memiliki ketulusan hati, bukan keahlian. Jika kamu memilih pemimpin, pilihlah yang punya hati bagi rakyatnya, bukan yang mempunyai harta banyak atau kemampuan berbicara yang luar biasa. Jika kau mencari bawahan, carilah yang mempunyai ketulusan dan kejujuran, jangan cari yang hanya bermodalkan ketrampilan tinggi tapi sifat yang buruk. Saya rasa, Indonesia tidak pernah kekurangan pemimpin yang berskill tinggi dan berwibawa, tapi Indonesia kekurangan pemimpin yang memiliki hati bagi bangsanya sendiri.


Monday, February 5, 2007

Lima Keping Mata Uang


Ini adalah salah satu cerita terkenal di dunia. Di zaman Dinasti Song, ada seorang Jenderal yang pintar dan bijaksana, bernama Tii Ching. Suatu saat, ia ditugaskan menempuh jarak jauh untuk berperang. Pada saat itu, semangat pasukannya semakin lama semakin rendah. Dalam peribahasanya: "Loyo sebelum perang" :)

Untuk memberi semangat, ia mengumpulkan semua prajuritnya dan berkata: " Kali ini kita menempuh jarak jauh untuk berperang. Tanggung jawab kita sangat besar. Kita harus menang atau mati. Saya akan menjatuhkan lima keping uang logam di tempat ini untuk menanyakan masa depan kita. Bila sisi bergambar kepala terbuka, maka Tuhan melindungi kita dan pasukan segera bergerak. Bila sisi sebaliknya, maka kita segera menarik pasukan dan pulang."

Selesai bicara, ia menjatuhkan kelima keping itu dan ternyata seluruhnya adalah sisi bergambar kepala!! Tii Ching berkata dengan gembira:"Tuhan memberkati kita, kita pasti memenangkan peperangan ini!" "Luar biasa!!"Guman pasukan-pasukan yang melihatnya."Kita pasti menang!!" Teriak Tii Ching lagi. Benar, semangat pasukannya menjadi tinggi. Mereka merasa Tuhan ada di pihak mereka. Lalu mereka maju berperang dan akhirnya kembali dengan kemenangan besar.

Pada pesta ucap syukur, seorang prajurit berkata pada Tii Ching:"Kali ini, kita benar-benar dalam lindungan Tuhan!" Tii Ching hanya diam dan tersenyum. Ia lalu mengambil kelima keping logam itu dan memberikan kepada prajurit itu. saat itu, prajuritnya baru mengetahui bahwa sisi lain dari uang logam itupun bergambar kepala.

Percaya pada diri sendiri adalah rahasia pertama kesuksesan

blog layouts


Sunday, February 4, 2007

Martil dan Pelat Besi



Ada dua pemuda pergi bersama untuk mencari ilmu. Mereka telah berjalan sangat jauh dan akhirnya mengambil keputusan untuk belajar memukul dan membuat alat-alat besi di tukang besi ternama.

Sang tukang besi ternama itu lalu menerima mereka dan mengambil dua buah pelat besi dan dua martil untuk diberikan kepada mereka masing-masing satu pelat besi dan satu buah martil. Mereka diminta memukul pelat besi itu dengan martil hingga putus. Setelah beberapa saat, pemuda pertama datang ke tukang besi itu dan berkata,” Tidak bisa!! Pelat besinya terlalu keras! Besi ini tidak akan bisa diputus.”

Selang beberapa saat, datang pemuda kedua. Dengan muka penuh keyakinan, dia berkata,”Pak, apakah ada martil yang lebih kuat?”

Orang sukses mencari jalan, Orang gagal mencari alasan
MySpace


Cen Ze Memotong Ayam




Cen Ze adalah seorang ilmuwan di China jaman dahulu. Suatu hari, istrinya ingin pergi ke pasar. Tetapi putranya ribut-ribut ingin ikut. Ia mendengar istrinya membujuk,” Kamu tinggal di rumah saja, yach! Mama sebentar lagi saja sudah pulang. Lalu akan memotong ayam dan memasaknya enak sekali untuk kamu.” Setelah itu, ia pergi ke pasar.

Setibanya di rumah, Sang Ibu melihat Cen Ze sedang bersiap-siap menangkap seekor ayam untuk dipotong. Cepat-cepat, ia maju mencegahnya sembari berkata,” Saya hanya membujuk anak kita supaya tetap tinggal di rumah. Jangan dianggap serius!!”

Cen Ze tidak setuju. Sembari mengusap keningnya, ia berkata:"Anak tidak boleh dibujuk seperti itu. Jangan pula diajak bergurau seperti itu. Ia akan mengambil contoh dari ayah ibunya dan mempraktekkan “ajaran” kita ini. Sekarang engkau berbohong kepadanya berarti mengajarkan ia berbohong. Sebagai seorang ibu, bila berbohong kepada anaknya, ia tidak akan percaya lagi kepadamu. Dengan demikian, bagaimana bisa mendapatkan kefektifan dari pendidikan?” Kemudian Cen Ze mengambil sebilah pisau dan mulai memotong seekor ayam. Istrinya pun segera memasak untuk anaknya.

NOTES:
Kata-kata yang sudah dikeluarkan tidak dapat ditarik kembali. Orang yang tidak memiliki kepercayaan dari orang lain tidak akan bertahan di masyarakat, terutama bagi seorang pemimpin dan juga pendidik. Apa yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan. Apa yang dijanjikan harus dilaksanakan tanpa penyesalan.

“Seseorang itu sangat gampang dibodohi sekali, tapi hari-hari sesudah itu, jangan harap ia akan mempercayai kamu lagi selama-lamanya.”


Friendster